Bencana Akibat Ulah Manusia dan Pelajaran dari Kisah Nabi Nuh
- Dec 26, 2025
- Muh Jusril Ihza Mahendra
- Opini
Oleh: Abustan
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Maros
Bencana sering kali dipersepsikan sebagai takdir alam semata. Padahal, dalam banyak peristiwa yang kita saksikan hari ini, kerusakan justru berawal dari tangan manusia sendiri. Banjir akibat sampah dan alih fungsi lahan, longsor karena deforestasi, pencemaran lingkungan, kecelakaan industri, konflik sosial, hingga krisis iklim global adalah contoh nyata bagaimana perilaku manusia yang abai dan rakus mempercepat datangnya bencana.
Fenomena ini bukan sekadar isu lingkungan atau teknis pembangunan, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan hal tersebut dalam Surah Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan di muka bumi bukanlah kebetulan, melainkan konsekuensi dari tindakan manusia sendiri.
Allah SWT membiarkan sebagian dampak itu terjadi sebagai peringatan agar manusia sadar, berbenah, dan kembali pada nilai-nilai kebenaran. Artinya, bencana bukan hanya musibah, tetapi juga pesan agar manusia memperbaiki cara hidupnya, termasuk dalam memperlakukan alam dan sesama.
Pelajaran serupa juga dapat kita temukan dalam kisah Nabi Nuh AS. Setelah berdakwah selama ratusan tahun namun ditolak oleh kaumnya yang ingkar dan zalim, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk membangun bahtera di tempat yang tidak lazim—di atas gunung. Perintah ini tentu terdengar ganjil bagi kaumnya, bahkan menjadi bahan ejekan. Namun, bahtera itulah yang kelak menjadi sarana keselamatan ketika banjir besar melanda.
Kisah Nabi Nuh bukan semata cerita sejarah atau mukjizat, melainkan pesan moral yang sangat relevan dengan kondisi hari ini. Bahtera yang dibangun Nabi Nuh mengajarkan pentingnya antisipasi, kepatuhan terhadap petunjuk Ilahi, dan keberanian mengambil langkah pencegahan meskipun tampak tidak populer. Ia juga menunjukkan bahwa keselamatan hanya dapat diraih oleh mereka yang beriman, sadar, dan mau bertindak sebelum terlambat.
Dalam konteks kekinian, “membangun bahtera” tidak selalu berarti secara fisik, tetapi bisa dimaknai sebagai upaya nyata menjaga lingkungan, memperbaiki tata kelola pembangunan, menegakkan keadilan sosial, serta membangun kesadaran kolektif tentang tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi. Tanpa perubahan sikap dan perilaku, kerusakan akan terus berulang dan bencana akan semakin sulit dihindari.
Sebagai penutup, bencana akibat ulah manusia adalah realitas yang sedang dan akan terus kita hadapi. Al-Qur’an telah memberikan peringatan sekaligus solusi melalui ayat-ayat-Nya dan kisah para nabi. Tinggal bagaimana kita mau mengambil pelajaran, kembali ke jalan yang benar, serta membangun kesadaran bersama untuk menjaga bumi sebagai amanah Allah SWT. Jika tidak, sejarah kaum Nabi Nuh bisa saja terulang dalam bentuk yang berbeda di zaman kita.