Kartini dari Kampung-Kampung Kita

  • Apr 21, 2025
  • Muh Jusril Ihza Mahendra
  • Opini

Oleh: Muh. Jusril Ihza Mahendra

Setiap tanggal 21 April, kita memperingati Hari Kartini sebagai momentum penghormatan terhadap perjuangan emansipasi perempuan di Indonesia.

Raden Ajeng Kartini telah menjadi simbol perlawanan terhadap keterkungkungan budaya patriarki pada masanya, sekaligus membuka jalan bagi perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan dan ruang aktualisasi diri yang lebih luas.

Namun di balik penghormatan nasional terhadap Kartini, kita juga perlu merenungi: bagaimana semangat Kartini bisa diterjemahkan dalam konteks kearifan lokal di berbagai daerah?

Di banyak daerah, terutama di pelosok-pelosok Indonesia, sebenarnya telah tumbuh sosok-sosok perempuan yang memiliki semangat yang sama dengan Kartini.

Mereka mungkin tidak menulis surat kepada tokoh Eropa, tetapi mereka menjadi guru di dusun-dusun terpencil, bidan yang tak kenal lelah, ibu yang mendidik anak-anaknya dengan nilai-nilai luhur, hingga perempuan adat yang menjaga hutan dan warisan budaya.

Inilah Kartini-Kartini lokal yang keberadaannya sering luput dari sorotan.

Kearifan lokal kita menyimpan banyak narasi tentang peran perempuan yang tidak kalah hebat. Di Bugis misalnya, dikenal sosok Indo’ Botting Lopi atau Bissu, perempuan atau sosok dengan peran spiritual tinggi yang menjadi penjaga nilai, budaya, bahkan pelindung komunitas.

Dalam tradisi Mandar, perempuan dikenal sebagai pengelola rumah tangga sekaligus pelaut ulung yang menyimpan semangat kerja keras dan ketahanan.

Semua ini menunjukkan bahwa semangat Kartini sesungguhnya telah lama tumbuh dan hidup dalam jantung kebudayaan lokal kita.

Namun, modernisasi kadang justru menjauhkan kita dari penghargaan terhadap kearifan lokal. Kita sering menganggap bahwa perempuan hebat adalah yang tampil di panggung besar, yang berbicara lantang di media, atau yang duduk di kursi kekuasaan.

Padahal, perempuan hebat juga adalah mereka yang menjaga nilai lokal, melestarikan bahasa daerah, menjaga tradisi tenun, mengajarkan doa-doa leluhur, atau menjadi penggerak perubahan sosial di kampung-kampung terpencil.

Hari Kartini seharusnya menjadi ajakan untuk kembali mengangkat perempuan-perempuan lokal sebagai teladan.

Menguatkan peran perempuan tidak harus selalu dengan menghilangkan identitas lokalnya, tetapi justru memperkuat akar budaya yang selama ini menjadi kekuatannya.

Emansipasi yang membumi adalah emansipasi yang tidak tercerabut dari nilai-nilai kearifan lokal.

Di tengah arus globalisasi yang begitu deras, mari kita rayakan Kartini bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai semangat yang hidup dalam setiap perempuan Nusantara yang menjaga, merawat, dan menghidupi nilai-nilai luhur bangsanya.

Kartini adalah mereka yang tetap berdiri teguh di tengah arus, sambil membawa obor peradaban dari kampungnya masing-masing.