Menutup 2025: menyerupai atau meneladani?
- Dec 31, 2025
- Admin
- Opini
Menjelang akhir tahun 2025, umat Islam di Indonesia dihadapkan pada dilema klasik: apakah ikut merayakan tahun baru Masehi termasuk tasyabbuh (menyerupai kaum lain) atau justru meneladani nilai universal seperti muhasabah dan syukur.
Hadits Nabi "Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka" (HR. Abu Dawud) sering disalahartikan sebagai larangan total terhadap tradisi sekuler, padahal konteksnya adalah identitas aqidah, bukan kalender alam.
Hadits tasyabbuh lahir di masa Nabi di mana pakaian atau ritual jadi penanda keimanan, berbeda dengan tahun baru 2026 yang bersifat administratif global, bukan syiar Kristen eksklusif.
Nadirsyah Hosen dalam tulisannya di Geotimes menekankan adaptasi budaya seperti Walisongo yang transformasi wayang untuk dakwah, sehingga ucapan selamat atau kembang api boleh asal diisi doa dan silaturahmi. Pendekatan ini selaras dengan Yusuf al-Qaradhawi yang membolehkan partisipasi sosial tanpa ikut ritual sakral non-Muslim.
Di Indonesia mayoritas Muslim, perayaan tahun baru justru jadi ajang harmoni, seperti doa bersama di Bundaran HI atau Banyuwangi bersama Quraish Shihab, bukannya provokasi radikal. Aceh mungkin larang pesta demi syariat, tapi Jakarta rayakan inklusif, membuktikan Islam Nusantara fleksibel menjaga ukhuwah tanpa mengorbankan prinsip. Meneladani momentum akhir tahun untuk evaluasi diri lebih utama daripada fatwa hitam-putih yang picu polarisasi.
Umat Islam tak perlu takut "menyerupai" selama niat murni syukur kepada Allah, hindari maksiat, dan prioritaskan Hijriyah untuk ibadah inti. Jadikan 31 Desember 2025 sebagai titik tolak teladan positif: muhasabah, sedekah, dan toleransi, sesuai semangat Pancasila di negeri beragam. Dengan demikian, tahun baru bukan ancaman, melainkan peluang dakwah kontemporer.
Oleh: Muh. Jusril Ihza Mahendra