The Dream Team: Manuver Gus Ipul, dan Triliunan yang Menguap

  • Dec 16, 2025
  • Abr
  • Opini

Pada awal periode Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU hasil Muktamar ke-34 di Lampung, hadirlah apa yang disebut banyak pihak sebagai "The Dream Team".

Sebuah Tri Tunggal yang solid: Gus Yahya dengan visi besar dan integritasnya, Gus Ipul dengan kecerdikan taktis dan strateginya, serta Gus Gudfan dengan jaringan sumber dayanya. Mereka digadang-gadang sebagai tim yang akan mengawal Nahdlatul Ulama melangkah mantap di abad keduanya.

Soliditas itu berakar dari panjangnya sejarah bersama. Gus Yahya dan Gus Ipul bukanlah rekan yang baru kenal; mereka tumbuh dan dibesarkan dalam lingkar dan tradisi NU yang sama. Karenanya, wajar jika Gus Yahya menaruh kepercayaan penuh. Dengan prinsip membagi tugas, ia fokus pada hal-hal prinsipil, sementara urusan furu’iyat dan operasional PBNU ia serahkan sepenuhnya kepada Gus Ipul.

Mulai dari urusan administrasi, koordinasi dengan wilayah, hingga hal yang paling kompleks dan krusial: menindaklanjuti dan mengelola konsesi tambang. Prinsip Gus Yahya jelas: aset NU harus dikelola secara profesional, aman, dan steril dari kepentingan politik praktis. Di luar itu, ia mempercayakan segalanya kepada sahabatnya.

Di sinilah permainan dimulai. Gus Ipul, dengan keahlian 'stratanya', mengusulkan struktur perusahaan untuk mengelola tambang. Dialah yang mengusung Gus Yahya menjadi Direktur Utama PT Berkah Usaha Muamalah Nusantara (PT BUMN), sementara Rais Aam dijadikan Komisaris Utama. Gus Yahya, yang polos dan percaya, hanya berkata, “Saya gak ngerti urusan teknis, terserah bagaimana baiknya.”

Gus Ipul juga yang menjadi ‘pintu gerbang’, mempertemukan Gus Yahya dengan para bohir (donatur/pemodal) mitra tambang. Soal pengelolaan lapangan, Gus Yahya sepenuhnya mempercayakannya kepada Gus Gudfan beserta pundi-pundinya.

Kepercayaan buta itulah yang dimanfaatkan. Dalam praktiknya, Gus Yahya sama sekali tidak ‘cawe-cawe’. Bahkan, tanda tangan kontrak dengan mitra, PT Anugerah Perdana Nusantara (PT APN), ia lakukan hanya karena terus didesak dan didesak oleh Gus Ipul agar segera diselesaikan.

Permainan yang penuh tipu daya ini akhirnya terbongkar ketika suatu hari, Gus Yahya mendapat kejutan yang membuatnya tercengang. Seseorang memberitahunya bahwa ada catatan investasi PT BUMN senilai lebih dari 3,5 Triliun Rupiah untuk 6 proyek tambang batu bara dan nikel. Gus Yahya terperanjat, “Saya tidak pernah dikasih laporan soal itu.”

Ia pun bertanya-tanya, kenapa bisa ada proyek tambang nikel? Selama ini yang ia ketahui dan setujui hanya tambang batu bara saja. Saat itulah ia menyadari, di balik kepercayaan yang ia berikan, Gus Ipul dan Gus Gudfan telah menjalankan sebuah agenda tersendiri yang jauh dari prinsip yang ia pegang teguh.

Fakta ini memperlihatkan dengan nyata bagaimana seorang sahabat dan kader yang dipercaya, justru memanfaatkan posisi tinggi dalam struktur PBNU untuk membangun kerajaan bisnis terselubung.

Visi besar dan prinsip ketat Gus Yahya tentang profesionalisme, keamanan aset, dan netralitas politik, mungkin telah dikalahkan oleh strategi licik dan permainan dana yang ia tidak pernah benar-benar kendalikan. "The Dream Team" pun retak, bukan karena perbedaan visi, melainkan karena fondasi kepercayaan telah dikhianati dari dalam oleh orang yang paling diandalkan. (Terong Gosong)