KNPI: Rumah Bersama atau Sekadar Panggung Bergilir?

  • Apr 27, 2026
  • Admin
  • Opini

Narasi “rumah bersama” yang disematkan pada Komite Nasional Pemuda Indonesia terdengar indah - terlalu indah, bahkan. Ia seperti slogan yang nyaman diucapkan di podium, tetapi sering kehilangan makna begitu forum berakhir. Pernyataan Abustan dalam Rapimpurda seharusnya dibaca bukan sekadar ajakan, melainkan alarm keras: ada yang tidak beres dalam tubuh kepemudaan kita.

Mari jujur. KNPI di banyak daerah, termasuk Maros, kerap terjebak dalam siklus klasik: rapat, bagi peran, foto bersama, selesai. Energi pemuda habis di ruang seremonial, sementara realitas di luar bergerak tanpa menunggu. Dalam situasi seperti ini, “rumah bersama” lebih mirip panggung bergilir - siapa yang berkuasa, dia yang tampil; yang lain cukup jadi penonton.

Masalahnya bukan sekadar ego sektoral antar OKP. Itu terlalu sederhana. Yang lebih dalam adalah krisis orientasi: apakah organisasi pemuda hari ini masih berbicara tentang gagasan, atau sudah sepenuhnya terseret ke logika kekuasaan dan akses? Jika yang kedua lebih dominan, maka jangan heran jika KNPI sulit menjadi rumah - karena setiap “penghuni” datang dengan agenda masing-masing, bukan untuk tinggal, tapi untuk mengambil sesuatu.

Pernyataan dari GP Ansor melalui Abustan justru menarik karena mengandung paradoks: ajakan untuk inklusif di tengah kultur eksklusif yang diam-diam masih dipelihara. Semua ingin dirangkul, tapi tidak semua siap merangkul. Semua bicara kolaborasi, tapi masih alergi terhadap perbedaan yang nyata - terutama jika menyangkut kepentingan.

Di titik ini, kita perlu sedikit “liar” dalam berpikir: mungkin masalahnya bukan pada kurangnya ruang, tetapi pada terlalu banyaknya kepura-puraan. KNPI tidak kekurangan forum, tapi kekurangan kejujuran. Tidak kekurangan struktur, tapi kekurangan keberanian untuk merombak cara lama. Bahkan, tidak kekurangan kader, tapi kekurangan figur yang berani keluar dari zona nyaman organisasi.

Lalu bagaimana dengan “Maros yang semakin keren”? Pertanyaannya sederhana tapi tajam: keren untuk siapa? Jika “keren” hanya berarti ramai kegiatan dan eksistensi di media sosial, maka kita sedang membangun ilusi kolektif. Tetapi jika “keren” dimaknai sebagai kualitas—pemuda yang kritis, mandiri, dan berintegritas - maka jalan ke sana jelas tidak bisa ditempuh dengan cara-cara lama yang penuh basa-basi.

KNPI harus memilih: tetap menjadi simbol persatuan yang steril dari konflik (dan karena itu juga steril dari perubahan), atau berani menjadi ruang yang hidup penuh perdebatan, gesekan ide, bahkan ketegangan, tetapi justru dari situlah lahir pemimpin yang matang. Rumah yang sehat bukan yang sunyi tanpa suara, tetapi yang mampu mengelola perbedaan tanpa runtuh.

Kalau tidak, mari kita berhenti menyebutnya “rumah bersama”. Sebut saja apa adanya: forum koordinasi yang sesekali ramai, tapi jarang berdampak. Lebih jujur, meski kurang puitis.

Karena pada akhirnya, masa depan Maros tidak ditentukan oleh seberapa sering pemudanya berkumpul, tetapi seberapa berani mereka membongkar kemapanan—termasuk kemapanan di tubuh organisasi mereka sendiri.